- - - -
Senin, 11 Desember 2017  
Diperlakukan Bak Penjahat
Empat Orang Mahasiswa Asli Riau di Tahan Polisi Mesir

Reportase Kampar - Hasbi - Rabu, 06/12/2017 - 14:09:11 WIB

KAMPAR,REPORTASERIAU.COM - Satu dari lima orang mahasiswa Indonesia masih ditahan oleh polisi Mesir, di kota Kairo.Menurut pemerintah Mesir hal ini mereka lakukan dengan alasan keamanan,padahal, hanya persoalan administrasi.

Mahasiswa yang sempat ditangkap polisi Mesir itu antara lain, Dodi Firmansyah, mahasiswa Al Azhar (Kampar, Riau), Muhammad Ja'far, mahasiswa Al Azhar (Siak, Riau), Ardinal Khairi, mahasiswa Al Azhar (Kampar, Riau), Fitra Nur Akbar, mahasiswa Al Azhar (Kampar, Riau), dan Muhammad Hartopo Abdul Jabbar, mahasiswa Darul Lugho (Medan, Sumut).

Dari lima orang mahasiswa itu, tiga orang sempat dipenjara bak penjahat besar yakni,Ardinal AKhairi,Muhammad Hartopo dan Fitra Nur Akbar. Namun, Ardinal dan Hartopo, sudah bebas dan sampai di Indonesia pada Sabtu (2/12). Sedangkan Fitra, hingga Selasa (5/12) malam, masih dipenjara.

Ardinal, salah seorang mahasiswa yang sudah sampai di Indonesia bercerita kepada Wartawan, di rumahnya di Desa Pasar Kampar Kecamatan Kampa, Kabupaten Kampar,Riau,Selasa (5/12) malam.

Kejadian ini, berawal saat ada razia gabungan di apartemen tempat mereka tinggal. Apartemen ini jaraknya sekitar 45 menit menggunakan bus dari Kampar Al Azhar.

Saat itu pada 22 November,tepatnya pada pukul 04.00 dinihari, waktu setempat.Ada yang menggedor pintu apartemen layaknya seperti perampok'

Saat menggedor itu, membuat mereka berlima di dalam apartemen tersebut.Salah seorang dari mereka terbangun,yakni Hartopo.Kebetulan saat itu Hartopo tidur di ruang depan. Seketika dia membangunkan yang lainnya di kamar.

"Setelah semuanya terbangun, kami berlima berdiri di pintu. Kalau itu maling, kami sudah siap menghadang,"tutur Ardinal.

Pintu masih tertutup. Dari lubang kecil di pintu, salah seorang mengintip keluar.Terlihat, ada sekitar 10 orang polisi dengan seragam loreng dan senjata laras panjang. Mereka adalah polisi setempat.

"Kami bilang, min (siapa, red)? Mereka menjawab hukuma (polisi, red). Mereka dengan suara keras menyuruh membuka pintu," ujar Ardinal.

Mereka pun membuka pintu. Seketika, polisi menerobos masuk. Memeriksa semua ruangan mereka dan jendela-jendela di apartemen itu.Saat pintu dibuka, polisi dengan senjata dan atribut lengkap menerobos. Pergi ke ruang depan, dan memeriksa jendela di apartemen.Gorden berjatuhan.

Setelah mereka periksa ruangan, mereka masuk ke kamar, meminta paspor dan handphone para penghuni rumah.

Ardinal dan Fitra saat itu, tak bisa memperlihatkan paspor aslinya. Hanya fotokopiannya saja. Sedangkan yang asli, digunakan untuk pengurusan perpanjangan visa pelajar.Sebab,mahasiswa di Mesir diperpanjang sekali setahun.

Dilanjutkannya,setelah mahasiswa dikumpulkan, polisi menyuruh memakai jaket dan sepatu. Disuruh turun dan masuk ke mobil minibus.

Sesampai di mobil kata Ardinal, mata mereka ditutupi dengan kain tebal berwarna merah. Mereka tak bisa lagi melihat apa-apa.Ternyata di dalam bus bukan berlima saja. Ada banyak yang lain di dalamnya.

Juga tidak hanya warga Indonesia di dalam minibus itu. Ada mahasiswa asal Genia (Afrika) 4 orang, dan 1 mahasiswa Mesir.Semuanya laki-laki.Diantara mereka itu, hanya satu orang yang saya kenail Fitra, karena dia tinggal satu gedung dengan mereka.

Sekitar 15 menit mereka menunggu di dalam mobil dalam kondisi berhenti. Setelah itu, baru mobil berjalan. Tak tahu kemana mereka dibawa.Ternyata para Mahasiswa Indonesia ini dibawa ke markas polisi.Kemudian mereka diturunkan dengan mata tertutup. Disuruh masuk ke ruangan, seperti asrama militer.

Di ruangan itu, juga tak hanya mereka berlima.Melainkan sudah ada 63 orang lagi disana. Tapi mereka yang sudah duluan disitu bukan mahasiswa Indonesia. "Saya mengetahui ini kemudian dari buku absen polisi bahwa ada 63 mahasiswa ada di dalam ruangan itu.Mereka ada yang dari Rusia, Genia dan Mesir.

Meski begitu,Ardinal dan rekannya titak melihat orang orang tersebut, karena mata masih ditutup.
Satu jam setelah itu, baru kain penutup mata mereka dibuka polisi itu.Saat itu sudah pagi.Para mahasiswa akhirnya diizinkan salat pukul 07.30 waktu setempat. Padahal waktu subuh, masuk pukul 05.30.

Setelah itu, mereka hanya berdiam. Kemudian, pada pukul 16.00, mereka dipanggil untuk diinterogasi.Mereka berlima mengantri. Satu per satu ditanya hingga interogasi itu berlangsung.

"Sampai pukul 22.00 kami diinterogasi. Saat antri itu, kami berdiri kedinginan. Suhu udara mencapai 20 derajat celcius,"tutur dia.

Pada giliran Ardinal diinterogasi, ada beberapa pertanyaan yang disampaikan. Mulai dari pertanyaan indentitas, paspor dan pekerjaan di Mesir.Ada juga pertanyaan, apa yang diketahui tentang demo.

Pertanyaan itu katanya, kemungkinan karena sebentar lagi dilakukan pemilihan presiden di Mesir.Padahal ke lima mahasiswa ini memang tak pernah merancang demo.Mereka juga tak pernah melaksanakan demo.Para mahasiswa ke Mesir hanya untuk belajar, tak ada yang lain.

Saat ditanya tentang paspor, Ardinal menunjukkan fotokopi paspor. Kartu pelajar di Al Azhar juga ditunjukkan. Namun, kartu pelajar seolah tak berguna saat itu. "Para polisi itu tak menghiraukan kartu pelajar itu," sebutnya.

Saat antri hendak diinterogasi itu, mata mereka ditutup. Namun lama berdiri, mereka diperbolehkan untuk duduk menunggu giliran.

"Saat duduk, salah seorang dari kami, mengunjurkan kaki. Saat itu, salah seorang polisi menyepak kaki dia. Kemudian kawan saya ini, membuka sedikit tutup matanya. Tapi seorang polisi lagi, memukul kepala teman saya," kata Ardinal.

Setelah diinterogasi, ruangan mereka dipindahkan. Sementara, dua orang dari mereka; Dodi dan Ja'far, dilepaskan. Diantarkan pulang oleh polisi ke apartemen. Sebab saat itu, tak ada persoalan dengan persyaratan administrasi mereka sebagai warga negara asing di Mesir.

Semenjak ditangkap, sampai selesai interogasi, mereka belum makan. Memang di asrama itu ada yang jual roti. Namun mereka tak membawa uang.Untunglah ada seorang bapak-bapak yang baik hati memberi roti satu per orang dengan gratis.

Mereka terus menunggu sampai pagi di asrama. Yang awalnya ada 63 orang yang ditangkap,tinggal 15 orang lagi. Sementara mereka dari Indonesia, hanya ada 3 orang.

"Sampai dua hari di sana, kami dipindahkan ke tahanan di komplek itu juga. Ada besi di depan, ada toilet. Luasnya sekitar 4x4,"tuturnya.
Di hari ke tiga,polisi Mesir tersebut baru memberi mahasiswa makan. Roti, nasi, dan sedikit daging. "Kalau minum, kami minum air toilet. Sementara ke toilet susah,"ungkapnya.

Di malam itu juga, pukul 23.00, mereka dipindahkan naik mobil tahanan ke sel yang lain. Mata kembali ditutup. Tiga orang dari Indonesia, digabung dalam satu sel yang berukuran 2x1 meter, dan tinggi 3 meter.

"Di situ makan, dikasih roti is (roti canai yang tak layak konsumsi). Bertemu kecoak di dalamnya. Hanya satu kali dalam satu hari. Masing-masing kami dapat dua roti. Minum air WC di sel sebelah. Di sel sebelah adalah orang-orang yang melakukan kejahatan. Ruangannya kecil celah cahaya masuk. Penuh dengan asap rokok sesak dan panas," ceritanya.

Kalau buang air kecil,ceritanya lagi, menggunakan botol. Tidur di sana, makan di sana, salat di sana, mengaji juga di sana.Satu hari tidur palingan 3 jam. Selebihnya kami berzikir, shalat dalam sujud isak tangis. Ke toilet sekali sehari. Paling lama dua menit.Kalau salat lanjutnya, hanya tidak pakai wuduk. Hanya tayamum.

Pada 25 November, mereka bertiga dibawa ke kantor imigrasi setempat dengan tangan berborgol. Semua orang memandang mereka seperti seorang penjahat besar.

Selanjutnya ke lima mahasiswa bertemu dengan petugas visa.Saat ditanya masalah visa,para mahasiswa tersebut menjawab, sedang perpanjangan visa. Membutuhkan waktu 1 atau 2 bulan. Sama dengan Fitra. Sedangkan Hartopo, ada paspor, punya berkas, cuma tinggal stempel dari imigrasi setempat.
Meski Ardinal memperlihatkan tanda pengenal mahasiswa, tapi tidak berguna.

Setelah itu mereka dikembalikan ke tahanan yang ukurannya 2x1 tadi dalam keadaan tangan berborgol. Setiap waktu, mereka terus berharap ada bantuan yang datang.
Hari kelima, petugas meminjamkan hape mereka yang disita, untuk menghubungi kawan di Mesir. Untuk membawakan makanan.

Ardinal kemudian menelpon sekjend PPMI namanya Ardi.Akhirnya sampai pukul 21.30 dia datang membawa paspor untuk berdua. Fitra visa-nya sudah selesai. Ardi menyerahkan paspor ke polisi.

Meski begitu penderitaan mahasiswa Indonesia ini belum juga berakhir.Walaupun paspo rsudah diserahkan diserahkan paspor,keduanya belum juga bebas. Malahan, mereka kembali ke ruangan 2x1 itu. Esok malamnya,barulah utusan KBRI mengunjungi mereka.Satu orang dari KBRI, dan Ketua PPMI.

Mereka membawa selimut dan makanan. "Kami tanya, kapan kami bisa bebas? Dia bilang sedang proses, dan sabar. Kami lega karena sudah diketahui KBRI. Pertemuan ini hanya boleh 2 menit.

Hari keenam derita berlanjut tak ada orang yang membesuk. Hari ketujuh barulah teman dekatdatang berkunjung membawakan makanan.Namun pertemuan sama teman tersebut hanya dibolehkan 1 menit.Kalau lebih alamat dibentak.

Hari kedelapan, malamnya datang Ketua Kumpulan Studi Mahasiswa Riau (KSMR) Mesir, Irsan. Saat itu, dia bilang, Ardinal dan Hartopo dipulangkan ke negaranya. Dideportase, tanpa ada alasan yang kuat.

"Kenapa? Padahal kami terdata di Al Azhar. Kartu mahasiswa punya, paspor punya, visa sedang mengurus. Itu sebenarnya tidak masalah. Alasannya cuma demi keamanan nasional. Tak ada alasan konkrit,"tutur dia.

Besoknya hari kesembilan, dengan penuh tanda tanya,merekapun dikeluarkan dari penjara. Tepatnya pada Kamis dinihari. Ardinal bersama Hartopo pulang diselimuti perasaan antara bahagia dan sedih. Bahagia bisa bertemu keluarga. Sedih, karena ada satu orang teman lagi yang dipenjara.

Sedihnya, Fitra masih dalam penjara Mesir. Sedangkan dia punya visa dan paspor. Administrasinya, lengkap. Sampai saat ini, masih ditahan,"tutur Ardinal.

Mereka bedua, langsung diantar ke Bandara Internasional Kairo dengan tangan masih diborgol. Mereka tetap diperlakukan seperti penjahat.Dimasukkan lagi ke penjara imigrasi.Namun, di sini, lumayan luas tempatnya. 7 jam di menunggu keberangkatan.

Saat itu,petugas memeriksa dompet mereka. Saat diperiksa, polisi Mesir malah mengambil uang mereka senilai 370 junei (Rp300 ribu).Polisi Militer Mesir tersebut beralasan uang mereka ambil untuk uang saku sebagai jasa mengurus mahsiswa Indonesia.

Akhirnya, pada Sabtu (2/12), sampai di Jakarta. Setelah sebelumnya delay beberapa jam saat transit di Turki. Kepulangan ini, mereka difasilitasi oleh KBRI.

"Kami ucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia (KBRI), yang telah menyelamatkan kami yang sedang terzolimi di Mesir," kata Ardinal sembari berharap, agar satu orang temannya lagi bisa secepatnya keluar. (hasbi)

(47) Dibaca - (0) Komentar

[ Kirim Komentar ]
Nama
Email
Komentar



(*Masukkan 6 kode diatas)

 
 
 
 
 
 
 
Redaksi | Index | Galeri replica watches replica rolex watches
Copyright 2013-2015 PT. Pressindo Multi Media, All Rights Reserved